Sabtu, 10 Maret 2012

KONSEP MAKINAWA SEBAGAI SOLUSI ALTERNATIF PEMBENTUK KARAKTER PADA ANAK


RINGKASAN
Pembentukan karakter yang ideal adalah pendidikan karakter yang dimulai sejak dini, yakni pendidikan yang berusaha mengoptimalkan potensi anak sejak dini. Perhatian orang tua terhadap perkembangan dan pertumbuhan karakter buah hati yang tidak lagi diperhatikan menyebabkan perilaku anak yang tidak baik. Karya tulis ini ditulis dengan tujuan untuk mengetahui cara pembentukan karakter pada anak melalui penanaman konsep Makinawa.
Sobur (1988) mengartikan anak sebagai orang yang mempunyai pikiran, perasaan, sikap dan minat berbeda dengan orang dewasa dengan segala keterbatasan. Sejalan dengan itu, Siti Haditono (2009) berpendapat bahwa anak merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya.
Abin S.M. (dalam Budia, 2012) mengatakan bahwa karakter adalah satu aspek dari kepribadian, dimana karakter adalah konsekuen tindakannya dalam mematuhi etika perilaku, konsisten atau teguh tidaknya dalam memegang pendidikan atau pendapat. Salah satu pembentukan karakter dalam nilai budaya dapat dilihat dari konsep Makinawa. Makina berasal dari kata Kinaa atau Kienaa dalam bahasa Toraja yang  menurut Kamus Toraja-Indonesia (1972) Kinaa artinya berbudi, memiliki nilai-nilai luhur. Jadi, dari pengertian diatas dapat didefenisikan Konsep Makinawa adalah suatu alat batin, paduan akal dan perasaan yang mengarahkan untuk menimbang baik dan buruk.
Jenis tulisan dalam karya tulis ilmiah ini menggunakan kajian pustaka (library research) yang dipaparkan secara deskriptif. Adapun yang menjadi objek dalam tulisan ini yakni konsep makinawa sebagai solusi alternatif membangun karakter baik pada anak. Untuk mengumpulkan data dalam karya tulis ilmiah ini dimulai dengan mengumpulkan referensi-referensi yang relevan dengan persoalan yang diangkat. Untuk menjawab permasalahan yang dikemukakan, maka data yang terkempul dianalisis dan diramu secara deskriptif dengan cara membahas kajiannya.
Penanaman nilai-nilai luhur pada anak dalam keluarga menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari demi membentuk karakter pada anak. Untuk meningkatkan pemahaman dan makna nilai-nilai luhur pada anak strategi yang di gunakan dalam pedoman ini adalah dengan menyisipkan pesan melalui berbagai kegiatan yang sering dilaksanakan di masyarakat. Dengan adanya penerapan konsep makinawa maka seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menganut paham ini akan membentuk karakter kepribadian anak yang dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan berupa moralitas maupun toleransi kehidupan terhadap sesama sehingga memiliki sikap yang dapat menghormati dan menghargai orang lain.
Orang tua diharapkan dapat menerapkan penanaman Konsep Makinawa untuk membentuk pribadi anak yang berkarakter. Bagi pihak sekolah, agar mengembangkan dan mengaplikasikan dalam lingkungan sekolah tentang ajaran konsep Makinawa sebagai pembinaan pembentukan karakter siswa. Bagi masyarakat dan pemerintah, agar mendukung dan mengaplikasikan penanaman nilai luhur seperti Konsep Makinawa sebagai bentuk pembinaan moralitas anak.
PENDAHULUAN
Latar Belakang
Keluarga merupakan salah satu pusat pendidikan  yang menjadi lingkungan pertama dan utama dikenal oleh anak. Dalam lingkungan keluarga, watak dan kepribadian anak akan dibentuk yang sekaligus akan memengaruhi perkembangannya di masa depan. Untuk menentukan masa depan anak, maka orang tua mempunyai peranan yang signifikan sebagai penuntun hidup dan pedoman seorang bagi anak.  Keluarga memiliki peran yang sangat besar dalam proses pendidikan terlebih dalam pembentukan kepribadian serta karakter anak. Pembentukan karakter anak pertama kali terbentuk dari keluarga mulai sejak anak itu dikandung hingga lahirnya. Siti R. Haditono (2009), berpendapat bahwa anak merupakan bagian dari keluarga, dan keluarga memberi kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku yang penting untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama.
Pembentukan karakter yang ideal adalah pendidikan karakter yang dimulai sejak dini, yakni pendidikan yang berusaha mengoptimalkan potensi anak sejak dini. Riset yang dilakukan oleh para ahli neorologi, psikologi dan pedagogi menganjurkan pentingnya pendidikan bagi anak sejak dilahirkan, bahkan sejak masih dalam kandungan ibunya. Periode ini merupakan masa emas (golden age) dalam tumbuh kembang anak (Munandar, 2003). Pada periode ini ditekankan pentingnya pembentukan karakter dan sifat dalam diri anak karena dalam masa ini otak anak berkembang seperti spons yang mudah menyerap apa saja yang terlihat, terdengar atau tercium anak.  
Munandar  (2003) menyatakan bahwa kontribusi IQ atau kecerdasan intelegensi bagi keberhasilan seseorang hanya sekitar 20 % dan sisanya yang 80 % ditentukan oleh faktor-faktor yang disebut kecerdasan emosional atau karakter seseorang. Demikian halnya dalam membentuk karakter anak, perlakuan lingkungan terutama keluarga terhadap anak pada masa perkembangan idealnya akan berpengaruh terhadap masa depan anak. Dengan kata lain, perlakuan orang tua dalam perkembangan karakter anak, menentukan masa depan dari anak itu sendiri.
Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa di era kompleks ini “knowledge is power” atau kecerdasan dan pengetahuan (brains and learning) merupakan modal utama dalam bersaing. Apabila orang-orang yang dikenal cerdas dan berpengetahuan tidak menunjukkan karakter (terpuji), maka tak diragukan lagi bahwa dunia akan menjadi lebih dan semakin buruk. Dengan kata lain, ungkapan knowledge is power akan menjadi lebih sempurna jika ditambahkan menjadi knowledge is power, but character is more.
Dewasa ini, perhatian orang tua terhadap perkembangan dan pertumbuhan karakter buah hatinya tidak lagi diperhatikan. Anggapan bahwa pendidikan baru bisa dimulai setelah usia sekolah dasar yaitu usia tujuh tahun ternyata tidaklah benar. Bahkan pendidikan yang dimulai pada usia Taman Kanak-kanak (4 - 6 tahun) sebenarnya sudah terlambat. Hasil penelitian dari bidang neurologi seperti yang dilakukan oleh Dr. Benyamin S. Bloom, seorang ahli pendidikan dari Universitas Chicago, Amerika Serikat, mengemukakan bahwa pertumbuhan sel jaringan otak pada anak usia 0 - 4 tahun mencapai 50% (dalam Munandar, 2003). Artinya bila pada usia tersebut otak anak tidak mendapatkan rangsangan yang maksimal maka otak anak tidak akan berkembang secara optimal. Hasil penelitian di Baylor College of Medicine menyatakan bahwa lingkungan memberi peran yang sangat besar dalam pembentukan sikap, kepribadian, dan pengembangan kemampuan anak secara optimal. Anak yang tidak mendapat lingkungan baik untuk merangsang pertumbuhan otaknya, misal jarang disentuh, jarang diajak bermain, jarang diajak berkomunikasi, maka perkembangan otaknya akan lebih kecil 20 - 30% dari ukuran normal seusianya (Munandar, 2003).
Anak mempunyai kecenderungan untuk menyimpang dari hukum dan ketertiban yang disebabkan oleh keterbatasan pengetahuan dan pengertian terhadap realita kehidupan, anak-anak lebih mudah belajar dengan contoh-contoh yang diterima dari aturan-aturan yang bersifat memaksa (Puspita, 2006). Sifat anak yang suka meniru perilaku lingkungannya inilah yang membatasi anak untuk menentukan apakah hal yang ditirunya benar ataupun salah karena anak merupakan pengamat dan peniru yang baik. Ironisnya apabila hal yang ditiru oleh anak itu adalah hal yang buruk, maka akan berdampak pada pembentukan kebiasaan yang buruk.
Oleh karena itu, orang tua sebagai penanggung jawab utama dalam mendidik anak memiliki peran yang sangat penting terutama dalam membangun dan membentuk karakter anak sehingga diperlukan keahlian dari orang tua dalam mendidik anak. Hal ini menunjukkan bahwa anak membutuhkan orang lain untuk dapat membantu mengembangkan kemampuannya karena anak lahir dengan segala kelemahan sehingga tanpa orang lain anak tidak mungkin dapat mencapai taraf kemanusiaan yang normal.
Diharapkan melalui penanaman nilai-nilai luhur serta norma yang ada dalam masyarakat dapat menjadi solusi dalam membentuk karakter anak sejak dini. Salah satu alternatif yang dapat ditempuh yakni melalui penanaman Konsep Makinawa sejak dini. Penanaman Konsep Makinawa, diajarkan bagi anak sejak dini agar mampu bertutur dan bertingkah laku yang sesuai dengan adat dan norma dalam masyarakat. Karakter harus menjadi pondasi bagi kecerdasan dan pengetahuan (brains and learning), agar menghasilkan insan yang berpengetahuan serta berakhlak mulia.

Tujuan Penulisan
            Karya tulis ini bertujuan untuk mengetahui dan merumuskan cara pembentukan karakter pada anak melalui penanaman konsep Makinawa.

Manfaat Penulisan
            Adapun manfaat penulisan karya tulis ilmiah ini, yaitu:
Manfaat Teoritis
Menjadi referensi bagi penulis lain yang ingin mengangkat topik serupa sehingga terdapat pengembangan yang lebih terarah dan diperoleh hasil yang lebih ekspresif.
Manfaat Praktis
1.        Bagi orang tua, memberikan pemahaman tentang peran utama orang tua dalam pembentukan karakter anak dan membantu dalam proses pembentukan karakter bagi buah hati sejak dini;
2.        Bagi pihak sekolah, menjadi  bahan acuan bagi guru dalam melaksanakan proses pembentukan karakter di sekolah:
3.        Bagi masyarakat, menjadi solusi untuk mengurangi keresahan terkait dekadensi/ kemerosotan moral anak;
4.        Bagi pemerintah, sebagai bahan acuan dalam memaksimalkan program pendidikan karakter bagi anak sejak dini.
GAGASAN
Pembentukan Karakter
Definisi karakter secara Etimologi: “character”(Latin) berarti instrument of marking, karasso” (Yunani) yang berarti “to mark” yaitu menandai, “charessein” (Prancis) berarti to engrove yaitu mengukir, “watek” (Jawa) berarti ciri wanci,“watak”(Indonesia) berarti sifat pembawaan yang mempengaruhi tingkah laku; budi pekerti; tabiat; perangai. Sedangkan secara Terminologi definisi Karakter adalah sifat kejiwaan, akhlak atau budi pekerti yang menjadi ciri khas seseorang atau sekelompok orang (Arum Puspita, 2006). Pengertian karakter menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008), adalah “bawaan, hati, jiwa, kepribadian, budi pekerti, perilaku, personalitas, sifat, tabiat, temperamen, watak”. Senada dengan itu, Karakter menurut Kamus Umum Bahasa Indonesia (Poerwadarminta, 1966) diartikan sebagai tabiat, watak, sifat-sifat kejiwaan, akhlak, ataupun budi pekerti. 
Lebih lanjut, Gordon Allport (dalam Budia, 2012) menyatakan bahwa “character is personality eveluated, an personality is character devaluated”. Allport beranggapan bahwa watak (character) dan kepribadian (personality) adalah satu dan sama akan tetapi di pandang dari segi yang berlainan; kalau orang bermaksud hendak mengenakan norma-norma jadi mengadakan penilaian. Maka lebih tepat dipergunakan istilah “watak” dan kalau orang tidak memberikan penilaian, jadi menggambarkan apa adanya, maka dipakai istilah kepribadian .
Dipihak lain, Abin Syamsuddin Makmun (dalam Budia, 2012) mengatakan bahwa karakter adalah satu aspek dari kepribadian, dimana karakter adalah konsekuen tindakannya dalam mematuhi etika perilaku, konsisten atau teguh tidaknya dalam memegang pendidikan atau pendapat. Selain itu Alwisol (dalam Budia, 2012) mendefinisikan karakter sebagai penggambaran tingkah laku dengan menonjolkan nilai (benar-salah, baik-buruk) baik secara eksplisit maupun implisit.
Dari berbagai interpretasi diatas dapat disimpulkan bahwa karakter adalah gambaran tingkah laku atau prilaku seseorang yang dinilai dengan norma-norma dalam masyarakat.
Dari pemaparan di atas, dapat didefinisikan pembentukan karakter (character building) adalah proses mengukir atau memahat jiwa sedemikian rupa, sehingga `berbentuk' unik, menarik, dan berbeda atau dapat dibedakan dengan orang lain. Ibarat sebuah huruf dalam alfabet yang tak pernah sama antara yang satu dengan yang lain, demikianlah orang-orang yang berkarakter dapat dibedakan satu dengan yang lainnya.
Unsur terpenting dalam pembentukan karakter adalah pikiran, karena pikiran yang di dalamnya terdapat seluruh program yang terbentuk dari pengalaman hidupnya merupakan pelopor segalanya (Byrne, 2007). Program ini kemudian membentuk sistem kepercayaan yang akhirnya dapat membentuk pola berpikirnya yang bisa mempengaruhi perilakunya. Jika program yang tertanam tersebut sesuai dengan prinsip-prinsip kebenaran universal, maka perilakunya berjalan selaras dengan hukum alam. Hasilnya, perilaku tersebut membawa ketenangan dan kebahagiaan. Sebaliknya, jika program tersebut tidak sesuai dengan prinsip-prinsip hukum universal, maka perilakunya membawa kerusakan dan menghasilkan penderitaan. Oleh karena itu, pikiran harus mendapatkan perhatian serius.
Joseph Murphy (2006) mengatakan bahwa di dalam diri manusia terdapat satu pikiran yang memiliki ciri yang berbeda. Untuk membedakan ciri tersebut, maka istilahnya dinamakan dengan pikiran sadar (conscious mind) atau pikiran objektif dan pikiran bawah sadar (subconscious mind) atau pikiran subjektif
Adi W. Gunawan (2005) menjelaskan mengenai pikiran sadar yang secara fisik terletak di bagian korteks otak bersifat logis dan analisis dengan memiliki pengaruh sebesar 12 % dari kemampuan otak. Sedangkan pikiran bawah sadar secara fisik terletak di medulla oblongata yang sudah terbentuk ketika masih di dalam kandungan. Karena itu, ketika bayi yang dilahirkan menangis, bayi tersebut akan tenang di dekapan ibunya karena dia sudah merasa tidak asing lagi dengan detak jantung ibunya. Pikiran bawah sadar bersifat netral dan sugestif.
Dengan memahami cara kerja pikiran tersebut, kita memahami bahwa pengendalian pikiran menjadi sangat penting. Dengan kemampuan kita dalam mengendalikan pikiran ke arah kebaikan, kita akan mudah mendapatkan apa yang kita inginkan, yaitu kebahagiaan. Sebaliknya, jika pikiran kita lepas kendali sehingga terfokus kepada keburukan dan kejahatan, maka kita akan terus mendapatkan penderitaan-penderitaan, disadari maupun tidak.
Karakter merupakan wajah kepribadian seseorang, dari sudut proses pembentukannya ada ahli yang mengatakan bahwa karakter manusia itu adalah turunan atau hereditas (Wibowo, 2011), sebagian lain lagi mengatakan lingkungan yang membentuk karakter kepribadian seseorang. Hellen Keller (Wibowo, 2011) mengatakan bahwa “character cannot be develop ease and quite” yaitu Karakter tidak dapat dibentuk dengan cara yang mudah dan murah. Dari pernyataan wanita yang banyak memberi inspirasi bagi dunia dengan keterbatasan fisik yang dialami, menunjukkan bahwa pembentukan karakter seseorang tidak terbentuk secara instan melainkan melalui suatu proses yang tidak mudah dan murah.
Sama halnya bagi pembentukan karakter seorang anak, memang membutuhkan waktu dan komitmen dari orang tua untuk mendidik anak menjadi pribadi yang berkarakter. Menurut Timothy Wibowo (2011) Jika orang tua mampu taat dengan proses pembentukan karakter pada buah hatinya, maka dampaknya bukan ke anak saja, namun kepada pribadi sang orang tua pun memberi dampak positif seperti karakter sabar, toleransi, disiplin dan memiliki integritas (ucapan dan tindakan sama).
Karakter dibentuk, bukan diciptakan. Dibentuk artinya harus melalui proses. Memang benar ada karakter dasar yang memuat kekuatan dan kelebihan kita. Namun untuk mengembangkan karakter, diperlukan character coach atau character mentoring (pelatih atau pembimbing karakter). Demikian halnya dengan anak, anak tidak dapat bertumbuh sendiri dalam karakter yang baik, olehnya itu perlu seorang pembina, coach, atau mentor yang mengarahkan dan memberitahukan kekeliruan dan kelemahan-kelemahan dalam hal ini orang tua. Namun perlu diperhatikan bahwa orang tua sebagai pembina karakter anak memiliki batasan dalam mendidik dan melatih karakter anak terlebih dalam mengerjakan suatu permasalahan, kadang kala orang tua membantu anak karena kasihan atau rasa sayang, tetapi sebenarnya malah membuat anak tidak mandiri, membuat potensi dalam diri anak tidak berkembang, bahkan memandulkan kreativitasnya. Padahal jika anak berhasil melewatinya menjadikan mereka kuat dan berkarakter.
Secara alami, sejak lahir sampai berusia tiga tahun, atau mungkin hingga sekitar lima tahun, kemampuan menalar seorang anak belum tumbuh sehingga pikiran bawah sadar (subconscious mind) masih terbuka dan menerima apa saja informasi dan stimulus yang dimasukkan ke dalamnya tanpa ada penyeleksian, mulai dari orang tua dan lingkungan keluarga (Setyono, 2006). Dari mereka itulah, pondasi awal terbentuknya karakter sudah terbangun. Pondasi tersebut adalah kepercayaan tertentu dan konsep diri. Jika sejak kecil kedua orang tua selalu bertengkar lalu bercerai, maka seorang anak bisa mengambil kesimpulan sendiri bahwa perkawinan itu penderitaan. Tetapi, jika kedua orang tua selalu menunjukkan rasa saling menghormati dengan bentuk komunikasi yang akrab maka anak akan menyimpulkan ternyata pernikahan itu indah. Semua ini akan berdampak ketika sudah tumbuh dewasa.
Selanjutnya, semua pengalaman hidup yang berasal dari lingkungan kerabat, sekolah, televisi, internet, buku, majalah, dan berbagai sumber lainnya menambah pengetahuan yang akan mengantarkan seseorang memiliki kemampuan yang semakin besar untuk dapat menganalisis dan menalar objek luar. Mulai dari sinilah, peran pikiran sadar (conscious) menjadi semakin dominan. Seiring perjalanan waktu, maka penyaringan terhadap informasi yang masuk melalui pikiran sadar menjadi lebih ketat sehingga tidak sembarang informasi yang masuk melalui panca indera dapat mudah dan langsung diterima oleh pikiran bawah sadar.
Semakin banyak informasi yang diterima dan semakin matang sistem kepercayaan dan pola pikir yang terbentuk, maka semakin jelas tindakan, kebiasan, dan karakter unik dari masing-masing individu. Dengan kata lain, setiap individu akhirnya memiliki sistem kepercayaan (belief system), citra diri (self-image), dan kebiasaan (habit) yang unik. Jika sistem kepercayaannya benar dan selaras, karakternya baik, dan konsep dirinya bagus, maka kehidupannya akan terus baik dan semakin membahagiakan. Sebaliknya, jika sistem kepercayaannya tidak selaras, karakternya tidak baik, dan konsep dirinya buruk, maka kehidupannya akan dipenuhi banyak permasalahan dan penderitaan.
Proses pembentukan karakter tersebut menunjukan keterkaitan antara fikiran, perasaan dan tindakan. Dari akal terbentuk pola fikir, dari fisik terbentuk menjadi perilaku. Cara berfikir menjadi visi, cara merasa menjadi mental dan cara berprilaku menjadi karakter. Apabila hal ini terjadi terus menerus akan menjadi sebuah kebiasaan.
Faktor yang mempengaruhi proses pembentukan karakter pada anak yaitu keluarga dan lingkungan. Keluarga adalah lingkungan yang pertama dan utama dikenal oleh anak, jadi dalam lingkungan keluargalah watak dan kepribadian anak akan dibentuk yang sekaligus akan mempengaruhi perkembangannya di masa depan. Anak belum banyak memiliki sejarah masa lalu dengan pengalaman sangat terbatas. Di sinilah Peran keluarga terutama orang tua yang memiliki pengalaman hidup lebih banyak sangat dibutuhkan membimbing dan mendidik anaknya. Apabila dikaitkan dengan hak-hak anak, menurut Sri Sugiharti (2005) tugas dan tanggung jawab orang tua antara lain :
1.    Sejak dilahirkan mengasuh dengan kasih sayang.
2.    Memelihara kesehatan anak.
3.    Memberi alat-alat permainan dan kesempatan bermain.
4.    Menyekolahkan anak sesuia dengan keinginan anak.
5.    Memberikan pendidikan dalam keluarga, sopan santun, sosial, mental dan juga pendidikan keagamaan serta melindungi tindak kekerasan dari luar.
6.    Memberikan kesempatan anak untuk mengembangkan dan berpendapat sesuai dengan usia anak.
Atas dasar itu orang tua yang bijaksana akan mengajak anak sejak dini untuk berinteraksi dengan lingkungan sekitar. Saat itulah pendidikan karakter diberikan. Mengenal anak akan perbedaan di selilingnya dan diliatkan dalam tanggung jawab hidup sehari-hari, merupakan sarana anak untuk belajar menghargai perbedaan di sekelilingnya dan mengembangkan karakter di tengah berkembangnya masyarakat. Pada tahap ini orang tua dapat mengajarkan nilai-nilai universal seperti cara menghargai orang lain, berbuat adil pada diri sendiri dan orang lain, bersedia memanfaatkan orang lain. Bapak ibu sebagai orang tua anak, adalah contoh keteladanan dan perilaku bagi anak. Oleh karena itu orang tua harus berperilaku baik, saling asih, asah dan asuh. bapak sebagai kepala keluarga juga harus mampu menjadi teladan yang baik. Karena ayah yang terlibat hubungan dengan anaknya sejak awal akan mempengaruhi perkembangan kognitif, motorik, kemampuan, menolong diri sendiri, bahkan meningkatkan kemampuan yang lebih baik dari anak lain. Kedekatan dengan ayah tentunya juga akan mempengaruhi pembentukan karakter anak. Sementara itu, Ibu yang secara emosional dan kejiwaan lebih dekat dengan anaknya harus mampu menjadi teladan yang baik bagi anak-anaknya baik dalam bertutur kata, bersikap maupun bertindak. Peran ibu dalam pembentukan karakter ini demikian besar, sehingga ada pepatah yang mengatakan bahwa “Wanita adalah tiang negara. Manakala wanitanya baik maka baiklah negara. Manakala wanitanya rusak, maka rusaklah negara”.
Begitu besarnya peran orang tua dalam pembentukan karakter dan tumbuh kembang anak, sudah sewajarnya apabila orang tua perlu menerapkan pola asuh yang seimbang (authoritative) pada anak, bukan pola asuh yang otoriter atau serba membolehkan (permissive).
Pola asuh yang seimbang (authoritative) akan selalu menghargai individualitas akan tetapi juga menekankan perlunya aturan dan pengaturan. Mereka dangat percaya diri dalam melakukan pengasuhan tetapi meraka sepenuhnya mengahrgai keputusan yang diambil anak, minat dan pendapat serta perbedaan kepribadiannya. Orang tua dengan pola asuh model ini, penuh dengan cinta kasih, mudah memerinci tetapi menuntut tingkah laku yang baik. Tegas dalam menjaga aturan bersedia memberi hukuman ringan tetapi dalam situasi hangat dan hubungan saling mendukung. Mereka menjelaskan semua tindakan dan hukuman yang mereka lakukan dan minta pendapat anak.
Karakter sangat ditentukan juga oleh lingkungan mereka. Dalam hal ini mungkin lingkungan dengan teman sepergaulan. Sifat karakter seseorang kebanyakan dapat dilihat dari kelompok yang diikutinya.

Kondisi Karakter Anak Masa Kini
Anak menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (2008) adalah manusia yang masih kecil; keturunan yang kedua. Ditinjau dari pengertian bahwa anak adalah manusia yang masih kecil menunjukkan bahwa anak secara biologis belum mengalami pubertas. Selanjutnya, ditinjau dari pengertian anak anak adalah keturunan yang kedua menunjukkan bahwa  kata "anak" merujuk pada lawan dari orang tua, meskipun mereka telah dewasa.
Selanjutnya, Sobur (1988) mengartikan anak sebagai orang yang mempunyai pikiran, perasaan, sikap dan minat berbeda dengan orang dewasa dengan segala keterbatasan. Sejalan dengan itu, Siti R. Haditono (2009) berpendapat bahwa anak merupakan mahluk yang membutuhkan pemeliharaan, kasih sayang dan tempat bagi perkembangannya. Selain itu, anak merupakan bagian dari keluarga, dan keluarga memberi kesempatan bagi anak untuk belajar tingkah laku yang penting untuk perkembangan yang cukup baik dalam kehidupan bersama.
Sementara itu, Kasiram (1994) mengatakan anak adalah makhluk yang sedang dalam taraf perkembangan yang mempunyai perasaan, pikiran, kehendak sendiri, yang kesemuannya itu merupakan totalitas psikis dan sifat-sifat serta struktur yang berlainan pada tiap-tiap fase perkembangannya. Menurut John Locke (Gunarsa, 1986) anak adalah pribadi yang masih bersih dan peka terhadap rangsangan-rangsangan yang berasal dari lingkungan.
Lebih lanjut, ditinjau dari mata hukum Indonesia, menurut Undang-Undang No. 23 Tahun 2002 Tentang Perlindungan Anak, dalam pasal 1 ayat (1) “Anak adalah seseorang yang belum berusia 18 (delapan belas) Tahun, termasuk anak yang ada dalam kandungan. Sementara menurut UU No. 4 Tahun 1979, Pasal 1 Ayat (2), tentang Kesejahteraan Anak menyebutkan bahwa anak adalah seseorang yang belum mencapai umur 21 tahun dan belum pernah kawin. Sedangkan dalam pasal 1 angka (5) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 1999 Tentang Hak Asasi Manusia, pengertian anak adalah setiap manusia yang berusia di bawah 18 (delapan belas) tahun dan belum menikah, termasuk anak yang masih dalam kandungan apabila hal tersebut adalah demi kepentingannya.
Dewasa ini, marak terdengar berbagai tindakan anarkis di kalangan masyarakat. Mulai dari perang antarnegara, suku, ras, etnis, agama bahkan perang antar saudara. Anarkisme seolah menunjukkan rendahnya pengendalian emosi dan kepribadian dalam pribadi manusia tersebut. Padahal dari berbagai tindak anarkis tersebut tidak menghasilkan apapun hanya memberikan citra buruk bagi pelaku tindak anarkis. Sesungguhnya yang menyebabkan tingginya tindak anarkisme di masa kini, tak lain karena rendahnya kemampuan untuk mengatur emosi (EQ) dalam hal ini tidak dibentuknya karakter pada tiap individu.
Rendahnya Kecerdasan Emosional (EQ) seseorang diakibatkan karena tidak ditanamkannya pendidikan karakter dalam diri individu tersebut sejak dini dalam keluarga. Demikian halnya dengan anak masa kini, berbagai permasalahan sering kita dapati seperti anak mengeluarkan kata-kata yang kotor dan kasar, anak yang sering berkelahi atau tawuran, bahkan banyak kasus anak melakukan pelanggaran hukum.
Berbagai permasalahan mengenai merosot perilaku dan moral anak masa kini merupakan masalah yang cukup besar, mengingat anak merupakan genarasi yang akan menentukan masa depan dari bangsa ini. Selanjutnya, apabila generasi ini sudah “bobrok” entah bagaimana nasib bangsa kedepan ini. Permasalahan mengenai lunturnya karakter dalam diri anak masa kini merupakan bentuk kegagalan tenaga pendidik dalam pembentukan karakter pada anak. Tenaga pendidik tersebut adalah orang tua, guru, dan juga lingkungan masyarakat.
Dewasa ini banyak orang tua yang tidak terlalu memperhatikan anak mereka dan lebih mementingkan pekerjaan terlebih orang tua yang keduanya sama-sama bekerja. Kesibukan untuk mencari nafkah menjadi alasan untuk menyelewengkan tanggung jawab dalam mendidik terlebih dalam proses pembentukan kepribadian dan karakter anak. Mereka menganggap bahwa pekerjaan adalah hal terpenting sebelum mengurus anak, dan hasil dari pekerjaan itupun untuk anak juga. Padahal pada dasarnya semua itu tidak dapat membentuk kepribadian buah hati mereka. Seperti halnya pendidikan formal di sekolah, sering ditemukan pada mata pelajaran Pendidikan Agama dan Pendidikan Kewarganegaraan guru memberikan penilaian “A”(baik) kepada siswa, padahal siswa tidak menerapkan materi sesuai dengan penilaian guru. Selanjutnya pendidikan informal dalam masyarakat, masyarakat masa kini seolah tidak memberikan perhatian dan tidak mau peduli mengenai pembentukan karakter anak di lingkungannya, mengingat tingginya individualisme masyarakat masa kini.
Namun tidak ada kata terlambat dalam mengubah keadaan, kata orang bijak “where there is a will, there is a way” selama masih ada kemauan pasti ada jalan keluarnya. Demikianlah halnya mengenai pembentukan karakter pada anak, masih belum terlambat untuk membentuknya walaupun melalui proses yang cukup rumit. Menanamkan nilai-nilai luhur pada anak sejak dini merupakan langkah untuk membentuk karakter anak.

Solusi yang Pernah Ditawarkan
Upaya penanaman nilai luhur salah satunya pernah ditawarkan dalam pembahasan tentang Pedoman Penanaman Nilai-Nilai Luhur Pada Anak Dalam Keluarga di Hotel Milenium Jakarta (28/04). Berikut merupakan cuplikan berita yang pernah ditawarkan (sumber : Jakarta-ykai.net,2011):
Penanaman nilai-nilai luhur pada anak dalam keluarga menjadi sesuatu yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari karena berdasarkan kajian yang dilakukan oleh Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Anak (KPPA) menunjukkan indikasi pemahaman anak tentang hal tersebut sangat rendah. Untuk meningkatkan pemahaman dan makna nilai-nilai luhur pada anak strategi yang di gunakan dalam pedoman ini adalah dengan menyisipkan pesan melalui berbagai kegiatan yang sering dilaksanakan di masyarakat. Selain itu mengadakan sarasehan yang melibatkan berbagai unsur di masyarakat serta dalam bentuk pelatihan-pelatihan. Pedoman ini disusun agar menjadi acuan bagi pemangku kepentingan di seluruh Indonesia, khususnya ditingkat propinsi dan kabupaten/kota dalam upaya meningkatkan pemahaman dan makna nilai-nilai luhur. (tr)

Konsep Makinawa (Gagasan yang Ditawarkan)
Untuk meningkatkan pemahaman dan makna nilai-nilai luhur pada anak strategi yang di gunakan dalam pedoman ini adalah dengan menyisipkan pesan melalui berbagai kegiatan yang sering dilaksanakan di masyarakat. Salah satu alternatif yang dapat ditempuk yakni penanaman Konsep Makinawa. Konsep Makinawa tersusun atas dua kata dasar, yakni Konsep dan Makinawa. Ada berbagai penafsiran mengenai defenisi Konsep, namun defenisi Konsep yang paling mapan adalah definisi yang diajukan Clifford Geertz yang menunjuk kepada ‘sistem simbol’ yang berfungsi untuk mengarahkan tingkah laku. Bentuk-bentuk simbolik yang dimaksud dianggap sebagai media penyimpanan makna yang melalui simbol ini pula bisa dipahami “budaya” sekelompok orang (Hans Daeng, 2008). Sementara itu, Makina berasal dari kata Kinaa atau Kienaa dalam bahasa Toraja yang  menurut Kamus Toraja-Indonesia (1972) Kinaa artinya berbudi, memiliki nilai-nilai luhur. Jadi, dari pengertian diatas dapat didefenisikan Konsep Makinawa adalah suatu alat batin, paduan akal dan perasaan yang mengarahkan untuk menimbang baik dan buruk.
Setiap kelompok masyarakat nusantara membentuk dan memiliki budayanya sendiri. Demikian halnya masyarakat suku Toraja, secara sadar atau tidak sadar masyarakat Toraja hidup dan tumbuh dalam sebuah tatanan yang menganut filosofi tau (tau dalam bahasa Toraja berarti manusia). Filosofi tau dibutuhkan sebagai pegangan dan pedoman menjadi manusia yang sesungguhnya dalam konteks masyarakat Toraja. Filosofi ini tersusun atas 4 pilar yang salah satunya ialah Konsep Makinawa. Seseorang menurut pandangan filosofi orang Toraja akan menjadi manusia yang sesungguhnya ketika dia telah memiliki dan hidup dengan Konsep Makinawa (Harefa, 2010).

Langkah-Langkah Strategis Implementasi Gagasan
Sesuai konsep makinawa, sangat penting untuk mengenalkan nilai biologis, dalam hal ini memperkenalkan jenis dan fungsi reproduksi yang berkaitan dengan pengenalan jenis kelamin; menjaga kesehatan serta menjaga kebersihan alat reproduksi; pengetahuan cara membersihkan diri sendiri; sedini mungkin menghindari pergaulan bebas dengan lawan jenis. Orang tua perlu membimbing dan memberi penjelasan agar anak tidak salah menilai dalam hal biologis.
Proses penerapan konsep makinawa memberikan arahan dalam berbuat baik yg diterima umum mengenai perbuatan, sikap, kewajiban, terlebih dalam hal susila. Orang tua menjadi contoh dalam penerapan konsep makinawa. Upaya pembentukan karakter anak dapat dilakukan melalui penanaman nilai-nilai moral sebagai dasar dari norma-norma yang dianut dalam keluarga.
Konsep makinawa terbentuk dari hasil interaksi sosial dan budaya masyarakat Toraja, yang secara turun-temurun menjadi kebiasaan diwariskan dalam setiap keluarga. Sesuai nilai dalam konsep makinawa, orang tua harus membina karakter anak tentang sosial budaya dengan menanamkan nilai sosial budaya dalam pergaulan sehari-hari baik di lingkungan keluarga, sekolah dan masyarakat. Nilai sosial budaya itu antara lain peduli terhadap sesama, kebersamaan, kerukunan dan sopan santun.
Makinawa memuat nilai-nilai luhur terlebih nilai agamis. Seseorang yang menanamkan konsep Makinawa dalam dirinya, akan merefleksikan sikap agamis dari dalamnya. Sesuai konsep makinawa, para orang tua harus membentuk karakter anak sejak dini melalui nilai-nilai agama dengan membiasakan beribadah menurut agama dan kepercayaan yang dianut, perkataan dan tutur kata yang baik, saling menghargai. Dalam penerapannya, orang tua memberi contoh teladan yang baik, perbuatan baik yang dilakukan berulang-ulang pasti akan membentuk karakter anak.
Orang tua harus pula membiasakan anak pola hidup ekonomis yakni bersikap hemat, memelihara apa yang dimilikinya, dapat membelanjakan sesuai dengan kebutuhan, dan kemampuan orang tua serta peduli. Hemat yaitu anak dapat bersikap dan berprilaku sederhana dalam melakukan sesuatu dan tetap peduli dengan sesama, anak juga ditanamkan sikap agar suka memberi dan tanggap dengan apa yang dirasakan orang lain suka menyumbang dengan hati yang ikhlas.
Sebagai orang tua harus menanamkan nilai-nilai sosialisasi pendidikan dengan membangun rasa percaya diri, bertanggungjawab, beradaptasi, menumbuhkan sikap kreatifitas, dan berbagi dengan orang lain. Percaya diri merupakan sikap keteguhan hati dari kepribadian seseorang sebagai dirinya sendiri serta mempunyai sikap pribadi untuk melakukan suatu tugas untuk dilakukan dengan penuh tanggungjawab, dapat menyesuaikan diri dan mempunyai sikap dermawan kepada oang lain. Dalam hal pengenalan lingkungan hidup, orang tua harus pula memberikan pendidikan tentang wawasan lingkungan hidup dengan cara anak mampu memelihara kebersihan dirinya, dan melestarikan lingkungan anak, kiat biasakan mandi 2x sehari dengan sabun mandi, gosok gigi sesudah makan dan sebelum tidur, cuci tangan sebelum dan sesudah makan dan lain-lain. Anak dibiasakan peduli terhadap lingkungan seperti membersihkan tempat tidurnya, membuang sampah pada tempatnya, menyapu rumah dan menyanyangi binatang.
Solusi ini merupakan strategi yang mampu menjawab permasalahan yang terjadi. Strategi ini menangulangi persoalan kemerosotan moral anak dan bagaimana pembentukan karakter pada anak.

Pihak-Pihak yang Dapat Mengimplementasikan Gagasan
Gagasan ini dapat terwujud melalui partisipasi aktif pihak-pihak sebagai berikut :
1.      Orang tua, penerapan konsep Makinawa dalam keluarga dikontrol oleh orang tua yang berperan sebagai pemberi contoh dan teladan yang baik bagi buah hatinya.
2.      Pihak sekolah, sebagai  tenaga kependidikan lanjutan pihak sekolah menanamkan konsep Makinawa ini dalam kehidupan di sekolah sesuai dengan kurikulum yang ada.
3.      Masyarakat, memberikan konstribusi yang besar dalam hal mengembangkan dan menanamkan dalam lingkungan bermasyarakat
4.      Pemerintah, mengoptimalkan dan mensosialisasikan pembentukan karakter sejak dini termasuk melalui penanaman konsep Makinawa.
KESIMPULAN
Inti Gagasan
Gagasan penanaman konsep Makinawa ini pada dasarnya meliputi cara pembentukan karakter pada anak melalalui penanaman konsep Makinawa. Gagasan ini merupakan pengembangan dari berbagai gagasan yang pernah ditawarkan.

Teknik Implementasi gagasan
Langkah-langkah implementasi untuk mewujudkan gagasan berbasis konsep Mikinawa ini adalah :
1.      Terlebih dahulu keneli pribadi anak.
2.      Selalu memberikan contoh dan teladan serta sikap yang baik bagi anak
3.      Mengubah lingkungan anak yang dilakukan secara tidak langsung.
4.      Berikan pujian, atau penghargaan pada sifat, kemampuan ataupun prestasi yang diperoleh anak.
5.      Memberi dorongan dan saran ke dalam pikiran anak yang tidak bersifat paksaan.
6.      Selalu memberi nasihat dalam mengatasi problem berasarkan pengetahuan, pengalaman dan perasaan.

Prediksi  Keberhasilan Gagasan
Pembentukan karakter anak yang dimulai sejak dini pada dasarnya tidak lepas peranan orang tua dalam membina dan mengarahkan sikap anak pada konsep kehidupan yang mengacu pada pandangan hidup yang lebih baik. Adanya penerapan konsep kehidupan ini dapat menghasilkan dan mengaktualisasikan sikap dan tindak laku yang dapat mengarah pada perilaku yang berkarakter. Dalam menggembleng anak menuju pembentukkan karakter maka dibutuhkan suatu sikap yang memuat nilai-nilai yang kehidupan yang terkandung dalam konsep-konsep kehidupan yang tertuang di ruang budaya. Salah satu konsep yang dapat diterapkan untuk mewujudkan pembentukan karakter anak dapat diimplementasikan melalui penerapan konsep makinawa dalam kehidupan sehari-hari.
Konsep makinawa yang dipahami sebagi nilai-nilai luhur yang bersifat agamis sarat dengan makna kehidupan. Dengan adanya penerapan konsep makinawa maka seorang anak yang dibesarkan dalam keluarga yang menganut paham ini akan membentuk karakter kepribadian anak yang dapat menjunjung tinggi nilai-nilai kehidupan. Nilai kehidupan yang dimaksud tidak lepas dari moralitas maupun tolerasnsi kehidupan terhadap sesama sehingga memiliki sikap yang dapat menghormati dan menghargai orang lain. Seorang anak yang telah dibentuk dalam lingkup konep makinawa akan memiliki nilai-nilai luhur seperti nilai agama, nilai moral, nilai pengenalan lingkungan hidup, nilai sosialisasi pendidikan, nilai ekonomis, nilai sosial-budaya, dan nilai pengenalan biologis.
Berdasarkan pada hasil pengkajian terhadap masalah yang dikemukakan dalam karya tulis ini, maka dapat ditarik kesimpulan bahwa untuk membentuk karakter pada anak melalui penanaman konsep makinawa dengan cara memberi contoh pada anak dalam bertutur, bertindak, dan berkepribadian yang sesuai dengan nilai dan norma yang berlaku dalam masyarakat.
DAFTAR PUSTAKA
Budia, Ahmad. 2012. Definisi Karakter. Online(http://id.shvoong.com/social-sciences/education/2259100-definisi-karakter/#ixzz1mc35JScu). Di akses pada 20 Februari 2012.
Byrne, Rhonda. 2007. The Secret. Jakarta; PT Gramedia.
Daeng, Hans J Dr. 2008. Manusia, Kebudayaan dan Lingkungan. Yogyakarta; Pustaka Pelajar.
Gunarsa, singgih D. 1986. Psikologi Perawatan. Jakarta; BPK Gunung Mulia.
Gunawan, Adi W.  2005. Hypnosis – The Art of Subconscious Communication. Jakarta; PT Gramedia Pustaka Utama.

Haditono, Siti Rahayu. 2009. Psikologi Perkembangan: Pengantar dalam Berbagai Bagiannya. Yogyakarta; Gadjah Mada University Press.

Harefa, Andrias. 2010. Membangun Karakter. Yogyakarta; Andi.
Hurlock, Elizabeth. 1990. Psikologi Perkembangan Edisi Kelima. Jakarta; Erlangga.
Kasiram, M. 1994. Ilmu Jiwa Perkembangan, Bagian Ilmu Jiwa Anak. Surabaya; Usaha Nasional.
Munandar, S.C. Utami. 1985. Mengembangkan Bakat dan Kreativitas Anak Sekolah: Penuntun Bagi Guru dan Orang Tua. Jakarta; Gramedia.
Murphy, Joseph D.R.S. 2002. Rahasia Kekuatan Pikiran Bawah Sadar. Jakarta; SPEKTRUM.
Poerwadarminta, W. J. S. 1966. Kamus Umum Bahasa Indonesia Edisi Keempat. Djakarta; Balai Pustaka.
Puspita, Arum. 2006. Proses Pembentukan Karakter. Online (http://arum7p.multiply.com/journal/item/42/Pendidikan_karakter). Di akses pada tanggal 21 Februari 2012
Tammu, J., dan Veen, Dr. H. Van der. 1972. Kamus Toradja-Indonesia. Rantepao; Jajasan Perguruan Kristen Toradja.
Setyono, Ariesandi. Hypnoparenting: Menjadi Orangtua Efektif dengan Hipnosis. Jakarta; PT. Gramedia Pustaka Utama.
Sobur, Alex. 1986. Psikologi Anak. Bandung; Angkasa.
Soedarsono, H. Soemarmo. 2009. Karakter Mengantar Bangsa dari Gelap Menuju Terang. Jakarta; Kompas Gramedia.
Sugiharti, Sri. 2005. Penjajagan Kebutuhan Tentang Pemenuhan Hak Anak di Dusun V Peranti Desa Gadingharjo Kecamatan Sanden Kabupaten Bantul DIY. Yogyakarta : Balitbang BKKBN DIY.
Wibowo, Timothy. (2011). Rahasia Sukses Pendidikan Karakter. Jakarta; Pendidikan Karakter.  
 
CURRICULUM VITAE

MARDYANTO BARUMBUN
Alamat : Jalan Dg. Tata VII/11 Makassar
DATA PRIBADI
 
Hp. 085299655708


q Tempat dan Tanggal Lahir                     :     Tana Toraja, 17 Maret 1994
q Jenis Kelamin                                       :     Laki-laki
q Agama                                                 :     Kristen Protestan
q Suku                                                    :     Toraja
q Jurusan/Fakultas                                  :     Matematika/FMIPA Angkatan 2011
q  Motto                                           :     Jangan berhenti ketika anda gagal, namun jadikan kegagalan sebagai cambuk untuk lebih maju lagi.
q Hobby                                                           :     Membaca, menulis dan dengar musik              
LATAR BELAKANG PENDIDIKAN
 
                               

þ  SD Negeri 56 Rantepao IV( 2002 )
þ  SMP Negeri  2 Rantepao(2005)
þ  SMA Negeri 1 Rantepao(2008)
þ  Universitas Negeri Makassar, FMIPA, Program studi Pendidikan Matematika.
PENGALAMAN ORGANISASI
 
                                                               
·         Sekretaris PKM GKJ Rantepao Periode 2009/2011
·         Sekretaris I OSIS SMAN 1 Rantepao periode 2010/2011
·         Anggota LPM Penelaran UNM Periode 2012/2013
KEGIATAN ILMIAH
 
 
·         Pelatihan Metodologi Penelitian dan Orientasi Anggota Baru (PMP-OAB) LPM  Penalaran UNM 2012
·         Pelatihan WorkShop Program Kreatifitas Mahasiswa (PKM) LPM Penalaran UNM 2011 dan 2012

Tidak ada komentar:

Posting Komentar